Dian Ardiansyah Putra
Senin, 28 Februari 2011
HONAI
Di daerah Wamena, Papua, ada gaya arsitektur tradisional yang begitu terkenal, yakni honai. Rumah khas masyara-kat Papua itu berbentuk lingkaran, terbuat dari kayu dan beratap jerami atau ilalang. Satu keluarga bisa memiliki beberapa honai yang berkumpul menjadi satu dan dibatasi pagar kayu di sekelilingnya. Tiap-tiap rumah dihuni satu pria beserta para istri dan anak-anak mereka.
Rumah tradisional itu memiliki pintu yang kecil serta rendah dan tidak memiliki jendela sebagai saluran ventilasi udara. Konstruksi demikian dibuat dengan tujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Struktur rumah tradisional tersebut tersusun atas dua lantai. Lantai dasar sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun dua lantai, tinggi rumah mencapai sekitar 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat membuat api unggun untuk menghangatkan diri sekaligus sebagai tempat untuk memasak.
Gaya arsitektur honai memang memiliki banyak kekhasan sebagai wujud cara arsitek terdahulu dalam memandang, memahami, dan mewujudkannya dengan mengandalkan bahan yang sederhana dan sangat natural. Eksplorasi materialnya pun dibuat sedemikian efektif dan ekonomis, tanpa mengurangi kualitas dan nilai fungsional bangunan.lik,i masuk ke dalam honai ini, kegelapan diiringi rasa hangat langsung menyergap. Pasalnya, di dalam ruang tidak terdapat satu pun jendela, yang ada hanya satu pintu.
Pada malam hari, penghuni rumah menggunakan kayu bakar untuk penerangan dan menghangatkan tubuh. Biasanya, sebagai alas tidur penduduk Wamena menggunakan rerumputan kering yang diganti secara berkala.
Sabtu, 26 Februari 2011
AKU RINDU MERAUKE
Setelah dua tahun tinggalkan kota Merauke, kini mulai ada rasa rindu yang mendalam terhadap kota Merauke. Kota ini telah membesarkan diriku. Kota ini dahulu lebih akrab disebut sebagai kota rusa. Dahulu rusa dan kangguru sering nampak terlihat dipinggir kota mencari makan.
Setelah hampir sepuluh tahun tinggalkan kota Merauke, kini mulai ada rasa rindu yang mendalam terhadap kota Merauke. Kota ini telah membesarkan diriku. Kota ini dahulu lebih akrab disebut sebagai kota rusa. Dahulu rusa dan kangguru sering nampak terlihat dipinggir kota mencari makan.
Merauke juga dikenal melalui lagu perjuangan ”dari sabang sampai merauke” merauke penuh dengan keunikan. Di kota merauke secara alami tidak bisa kita jumpai batu dan pegunungan. Kota ini rata. Mungkin lebih lebih banyak tanah dari pad pasirnya. Dahulu jalanan di kota ini dibangun dengan konstruksi cor. Semen plus pasir.
Dipinggiran kota terbentang sungai yang lebar dan panjang. Sungai Maro namanya. Sungai ini juga mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian. Pasalnya di sungai ini dibangun beberapa pelabuah besar dan kecil. Termasuk pelabuhan untuk kapal-kapal milik Pelni untuk berlabuh dan bongkar muat.
Lalu apa yang membuat saya jadi rindu dengan kota Merauke?. Yang pasti banyak hal yang mungkin tidak bisa saya sebut satu persatu. Kota merauke dengan kota rusanya sudah pasti sangat berarti bagi saya. Di kota ini saya dibesarkan. Dikota ini saya menuntut ilmu. Di kota ini saya menikah. Di kota ini saya masuk bekerja. Di kota ini hidup damai antara penduduk asli dengan pendatang.
Sebagai kota perbatasan, tentu merauke memiliki titik kilometer nol sebagai perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga, Papua New Guine (PNG). Titik kilometer nol itu berdiri megah ditengah hutan SOTA menghadap kebarat. Dibutuhkan waktu memang menuju tugu perbatasan dari kota Merauke. Jaraknya mungkin kurang lebih 75 kilometer. Sesaat setelah meninggalkan kota merauke, dikawasan hutan lindung, tepatnya di areal taman nasional wasur, kalau lagi beruntung kita bisa menikmati aneka burung dan juga binatang lainnya, seperti kangguru.
Karena saat ini saya lagi rindu maka melalui postingan ini saya ingin berbagi tentang merauke yang pernah saya rasakan diantaranya, makanan khasnya dengan sebutan ”sagu sep”. Makanan ini diramu dengan campuran daging ataupun ikan, lalu di bakar dalam tempurung, setelah matang ooooo nikmatnya bukan main. Inilah yang membuat saya sulit untuk melupakan kotaku Merauke.
Satu lagi yang membuat saya susah untuk melupakan Merauke adalah, pantai lampu satu. Dahulu tempat ini hampir setiap minggu saya kunjungi. Selain keindahan dan keramahan penduduk lokalnya. Ditempat ini juga saya dan beberapa sahabat menarik jaring untuk mendapatkan udang. Hanya beberapa langkah menarik jaring, maka tunggulah hasilnya cukup memuaskan.
Kota Merauke dengan mottonya ”Izakod bekai Izakod Kai” (Satu hati satu tujuan) dihuni berbagai etnis suku asli dan pendatang. Suku asli merauke antara lain, Marind, Muyu, Mandobo dan masih banyak lagi suku yang berasal dari berbagai distrik. Sementara untuk suku pendatang juga cukup banyak, seperti, Makassar, Bugis, Batak, Jawa dan sebagainya.
Saya juga teringat akan musim dinginnya kota merauke. Tapi saya sudah lupa pada bulan apa persisnya musim dingin itu tiba. Terasa berada di negeri eropa saja.
inilah sekilas tentang merauke
Setelah hampir sepuluh tahun tinggalkan kota Merauke, kini mulai ada rasa rindu yang mendalam terhadap kota Merauke. Kota ini telah membesarkan diriku. Kota ini dahulu lebih akrab disebut sebagai kota rusa. Dahulu rusa dan kangguru sering nampak terlihat dipinggir kota mencari makan.
Merauke juga dikenal melalui lagu perjuangan ”dari sabang sampai merauke” merauke penuh dengan keunikan. Di kota merauke secara alami tidak bisa kita jumpai batu dan pegunungan. Kota ini rata. Mungkin lebih lebih banyak tanah dari pad pasirnya. Dahulu jalanan di kota ini dibangun dengan konstruksi cor. Semen plus pasir.
Dipinggiran kota terbentang sungai yang lebar dan panjang. Sungai Maro namanya. Sungai ini juga mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian. Pasalnya di sungai ini dibangun beberapa pelabuah besar dan kecil. Termasuk pelabuhan untuk kapal-kapal milik Pelni untuk berlabuh dan bongkar muat.
Lalu apa yang membuat saya jadi rindu dengan kota Merauke?. Yang pasti banyak hal yang mungkin tidak bisa saya sebut satu persatu. Kota merauke dengan kota rusanya sudah pasti sangat berarti bagi saya. Di kota ini saya dibesarkan. Dikota ini saya menuntut ilmu. Di kota ini saya menikah. Di kota ini saya masuk bekerja. Di kota ini hidup damai antara penduduk asli dengan pendatang.
Sebagai kota perbatasan, tentu merauke memiliki titik kilometer nol sebagai perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga, Papua New Guine (PNG). Titik kilometer nol itu berdiri megah ditengah hutan SOTA menghadap kebarat. Dibutuhkan waktu memang menuju tugu perbatasan dari kota Merauke. Jaraknya mungkin kurang lebih 75 kilometer. Sesaat setelah meninggalkan kota merauke, dikawasan hutan lindung, tepatnya di areal taman nasional wasur, kalau lagi beruntung kita bisa menikmati aneka burung dan juga binatang lainnya, seperti kangguru.
Karena saat ini saya lagi rindu maka melalui postingan ini saya ingin berbagi tentang merauke yang pernah saya rasakan diantaranya, makanan khasnya dengan sebutan ”sagu sep”. Makanan ini diramu dengan campuran daging ataupun ikan, lalu di bakar dalam tempurung, setelah matang ooooo nikmatnya bukan main. Inilah yang membuat saya sulit untuk melupakan kotaku Merauke.
Satu lagi yang membuat saya susah untuk melupakan Merauke adalah, pantai lampu satu. Dahulu tempat ini hampir setiap minggu saya kunjungi. Selain keindahan dan keramahan penduduk lokalnya. Ditempat ini juga saya dan beberapa sahabat menarik jaring untuk mendapatkan udang. Hanya beberapa langkah menarik jaring, maka tunggulah hasilnya cukup memuaskan.
Kota Merauke dengan mottonya ”Izakod bekai Izakod Kai” (Satu hati satu tujuan) dihuni berbagai etnis suku asli dan pendatang. Suku asli merauke antara lain, Marind, Muyu, Mandobo dan masih banyak lagi suku yang berasal dari berbagai distrik. Sementara untuk suku pendatang juga cukup banyak, seperti, Makassar, Bugis, Batak, Jawa dan sebagainya.
Saya juga teringat akan musim dinginnya kota merauke. Tapi saya sudah lupa pada bulan apa persisnya musim dingin itu tiba. Terasa berada di negeri eropa saja.
inilah sekilas tentang merauke
kota kelahiranku
kota tercinta
IZAKOD BEKAI IZAKOD KAI
(SATU HATI SATU TUJUAN)
Hanya Di Merauke
sarang semut asli dari merauke
26 Februari 2011 04:39 | dibaca 249 kali
Sarang semut ( Myrmecodia pendens) merupakan salah satu tumbuhan epifit dari hydnophytinae (Rubiaceae) yang dapat bersimbiosis dengan semut dan dikatakan bersifat epifit karena tumbuhan ini menempel pada tumbuhan lain tetapi tidak hidup secara parasit pada inangnya sehingga hanya sebagai termpat menempel saja. Kandungan dan Manfaat:
Secara tradisi, sarang semut biasa digunakan sebagai tanaman obat oleh masyarakat pedalaman di bagian barat Wamena, Papua. Suku-suku di Bogondini dan Tolikara lazim memanfaatkannya untuk mengatasi rematik dan asam urat. Sarang semut mengandung flavonoid dan tanin. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan, yang bisa mencegah sekaligus mengatasi serangan kanker. Mekanisme kerja flavonoid dalam mengatasi kanker dengan membuat karsinogen tidak aktif, penghambat siklus sel, dan induksi apoptosis. Di samping itu, juga mengandung tokoferol. Tokoferol mirip vitamin E, yang berefek antioksidan efektif. Tokoferol berfungsi sebagai antioksidan dalam menangkal radikal bebas dan sebagai antikanker.
Dilihat dari kandungannya, maka sarang semut, menurut penelitian, hampir bisa mengatasi berbagai jenis kanker.
Demikian juga sarang semut bisa digunakan untuk mengobati penyakit jantung dan kebocoran jantung. Khasiat sarang semut mengatasi jantung bocor diperkirakan akibat kendungan sarang semut yang kaya mineral. Sarang semut mengandung 0,37 g kalsium, 68,58 mg natrium, dan 3,61 g kalium per 100 g. Dalam metabolisme tubuh, kalsium dan natrium berperan memberbaiki kerja jantung dan impuls saraf. Sedangkan kalium berperan mengatur ritme jantung. Jika kebocoran jantung disebabkan infeksi kuman, maka senyawa yang berperan mengatasinya adalah flavonoid. Dalam banyak kasus flavonoid berperan langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Senyawa flavonoid terkandung dalam serbuk maupun ekstrak air sarang semut.
Merauke Kota Tercinta
Kabupaten Merauke
kabupaten Merauke adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Merauke. Kabupaten ini adalah kabupaten terluas sekaligus paling timur di Indonesia. Di kabupaten ini terdapat suku Marind Anim.
Transportasi
Untuk menuju ke Kota Merauke (Kota Rusa) bisa ditempuh dengan menggunakan kapal laut (Kapal Pelni) dan juga melalui transportasi udara yang hanya dilayani oleh satu-satunya maskapai penerbangan swasta, yaitu Merpati Nusantara Airline (MNA).Kota Merauke terkenal dengan sebutan Kota Rusa dikarenakan dahulu hewan jenis ini banyak sekali ditemukan di kota ini selain binatang-binatang asli Papua lainnya, seperti kangguru merah, burung pelikan dan sebagainya.
Dilihat dari kondisi geografi, sejarah, ekonomi dan budaya, Kota Merauke memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Pulau Papua. Secara geografi, kota Merauke adalah salah satu kota paling timur di Indonesia, sekaligus berbatasan dengan Negara (Papua Nugini).
Di kota Merauke terdapat sebuah tugu yang merupakan kembaran dari tugu yang terdapat di Sabang, yaitu Tugu Sabang-Merauke. Tugu ini dibangun sebagai simbol Kesatuan Negara Republik Indonesia dari Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam) sampai Merauke (Papua). Tugu Sabang-Merauke ini bisa kita jumpai di Distrik Sota, yaitu sebuah daerah yang terletak di sebelah timur kota Merauke. Untuk menuju ke Sota kita bisa menggunakan kendaraan roda empat.
Dari latar belakang sejarah, kota Merauke memiliki keunikan tersendiri. Nama kota ini diambil dari nama sebuah sungai yang melintasi daerah Papua Bagian Selatan, yaitu sungai Maro. Nama kota Merauke terjadi karena kesalahpahaman bahasa antara pendatang (orang-orang Belanda) dan suku Marind (penduduk asli Kabupaten Merauke). Orang-orang Belanda yang melintasi sungai Maro menggunakan kapal uap, menarik perhatian suku Marind. Disinilah terjadi komunikasi antara orang Belanda yang mengira orang Marind bisa menggunakan bahasa Melayu.
Perekonomian di kota Merauke termasuk berkembang. Kapal-kapal yang memuat kebutuhan pokok penduduk Kabupaten Merauke berdatangan dari Pulau Jawa, namun untuk kembali ke Pulau jawa kapal-kapal ini tidak memuat barang muatan. Terjadi juga transaksi dagang antara penduduk Merauke dengan penduduk Negara tetangga PNG yang datang ke daerah kabupaten Merauke (Pelintas Batas) khusus untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Masalah Flu Burung yang sering terdengar di media masa Indonesia seperti tidak terlihat di Pulau Papua khususnya di kota terujung sebelah timur Indonesia ini. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya akses transportasi ke daerah terujung timur Indonesia ini.
Kamis, 24 Februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



